by : M.Azmi
MEREKA BICARA TENTANG CENTURY
Pengamat ekonomi dari Tim Indonesia Bangkit, Dr Iman Sugema menyatakan bahwa permasalahan Century merupakan akumulasi persoalan sejak tahun 2003-2004 yang penyelesaiannya ditunda-tunda oleh BI. Ia sendiri melihat bahwa persoalan Century tak ada kaitannya dengan imbas krisis global. (06/09)
Inilah.Com: Ada indikasi kuat SBY juga mengetahui, bahkan 'mungkin' menyetujui bail-out Bank Century. Tidak mungkin Menteri Keuangan, walaupun didukung Bank Indonesia, berani membuat kebijakan seperti itu tanpa persetujuan presiden. Apalagi, kemungkinan besar Wapres Jusuf Kalla tidak setuju. Tentu, dalam teori bargaining power, Sri Mulyani mau berhadapan dengan wapres karena dia telah didukung oleh presiden. (06/09)
Ekonom, Kwik Kian Gie menegaskan bahwa skandal Bank Century sudah busuk dari benihnya (19/11)
Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy melihat bahwa penetapan bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik oleh BI sehingga perlu ada kebijakan dana talangan untuk menyelamatkannya semata-mata hanya didasarkan pada analisis yang bersifat psikologi pasar dan mengesampingkan analisis kuantitatif terhadap kondisi Bank Century. Sebab, secara kuantitatif Bank Century semestinya langsung ditutup dan tidak berhak mendapatkan dana talangan (09/12)
Presiden Negarawan Center Johan Silalahi. Menkeu Sri Mulyani mantan Gubernur BI Boediono dan langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketiganya harus mempertanggungjawabkan kerugian negara yang mencapai Rp6.7 triliun itu dalam bentuk mengundurkan diri sebagai pejabat Negara (16/12)
Anggota Pansus Angket Bank Century Akbar Faisal. Presiden memberikan kekebalan hukum kepada Menkeu, Gubernur BI dan kepada semua pihak yang melaksanakan tugas dalam mengambil keputusan atau kebijakan JPSK, Padahal Presiden tidak diperbolehkan memberikan kekebalan hukum kepada siapapun dengan alasan apapun tanpa kecuali. Skandal Bank Century ini merupakan kejahatan negara (16/12)
Sekjen FUI, M Al Khaththath. Pelaku berbagai mega skandal perbankan mulai dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) hingga skandal Bank Century adalah antek-antek neolib."Dilihat dari modusnya yang sama dan terjadi berulang- .ulang, pola ini jelas menggambarkan pelakunya adalah antek neolib yang kini menguasai pengelolaan keuangan negara," (24/12)
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyayangkan pernyataan mantan pejabat Bank Indonesia (BI) yang menyebut kasus Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik."Kasus Bank Century adalah perampokan. Kalau ada yang mendukung Bank Century berarti dia mendukung perampok”, menurut Kalla skandal century adalah kejahatan tertinggi yang pernah terjadi di negeri ini (08/01)
Pengamat ekonomi Rizal Ramli mengatakan kasus Bank Century adalah perampokan. "Apakah kasus ini akan kita biarkan begitu saja?" tanyanya (09/01)
Pimpinan lembaga Center for Banking Crisis A. Deni Daruri. Bank Century yang berpengaruh psikologis terhadap kondisi di Indonesia, Deni menandaskan, "Itu hanya perasaan...." (19/01)
Kepala Satuan Kerja Audit Internal Bank Century, Susanna Cliuo. menyatakan merasa telah dibohongi oleh Direktur Treasury Bank Century Dewi Tantular yang merupakan saudara perempuan dari Robert Tantular. (19/01)
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, mengatakan kebangkrutan Bank Century terjadi akibat adanya kesalahan mengurus bank dan tindakan kriminal yang dilakukan pengelola bank dibandingkan krisis global di dunia internasional. (24/01)
Indo Barometer (Lembaga Survey), mayoritas responden yang ditanyakan pendapatnya mengenai kasus Bank Century percaya bahwa kebangkrutan bank tersebut tidak akan berdampak sistemik. (24/10)
Pansus Hak Angket Bank Century merasa kecewa karena Mantan Ketua KSSK Sri Mulyani tidak kunjung menyerahkan data KSSK. Padahal Sri Mulyani sudah mengangguk bersedia saat data itu diminta Pansus. (25/01)
detikNews. Pansus Angket Century masih mendua soal kesimpulan sementara. Fraksi Partai Golkar ingin merumuskan kesimpulan sementara untuk disampaikan. Namun Fraksi Partai Demokrat merasa hal itu tidak perlu. (25/01)
IRONI
Pansus Hak Angket Century DPR RI sebagai manifestasi wakil rakyat yang diberikan kewenangan mengungkap tuntas kasus Bank Century seliarusnya lebih menitikberatkan investigasinya terhadap penyebab fundamental kasus tersebut yaitu pelanggaran terhadap prinsip-prinsip prudent dalam pengelolaan Bank Namun, semenjak awal mencuatnya, kasus Bank Centunj seakan lebih didominasi oleh aroma politis pragmatis daripada mencari akar penyelesaian untuk mencegali terulangnya kembali kasus seperti Bank Century.
"Harus jernih, harus kontekstual, harus lurus untuk menyelidiki dan mencari tahu seluk beluk dibentuknya kebijakan," kata Presiden SBY, Senin (24/1). Itulah pernyataan sekaligus isyarat SBY terhadap keputusan bailout Bank Century. Kesimpulan Pansus Century harus Jernih dan kontekstual.
Ketua Fraksi Partai Demokrat membuat pernyataan yang bermakna 'bak gayung bersambut'. Anas Urbaningrum menyatakan bahwa Partai politik koalisi pemerintah di DPR sepakat bailout Century menyelamatkan Indonesia dari krisis. Bailout dinilai sudah sesuai secara kebijakan. (25/1)
Memang sejak awal pun sudah diingatkan bahwa jangan berharap dari Pansus Century. Menurut Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida. Masyarakat sebaiknya jangan terlalu berharap kepada pansus hak angket Century. Sebab, angket penuh dengan kompromi. Lalu kepada siapa dan apa kita berharap untuk menyelesaikan secara tuntas skandal Century ini?
BELAJAR DARI SKANDAL CENTURY
Seorang mu’min yang mempunyai keimanan dan keyakinan dengan janji Allah yang pasti benar, akan mampu menganalisa dan menyadari dari banyak kejadian/ peristiwa yang berlangsung silih berganti di negeri ini pasti akan ada hikmah/ pelajaran yang diambil dan berusaha bangkit seraya mengubah keadaan yang serta tidak akan mau jatuh ke lubang/ kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Sistem dan rezim korup. Itulah pelajaran dari Allah Swt terhadap skandal century. Rusak dan busuknya sistem yang ada merupakan peringatan Allah kepada kita.
Sungguh, skandal Bank Century merupakan fakta dari bobroknya sistem perbankan/keuangan nasional yang berbasis ribawi dan birokrat yang korup dan dzalim yang lahir dari azas kapitalisme-neoliberal yang diyakini dan diterapkan pemerintah dalam mengatur negara. Inilah bukti tak terbantahkan untuk kesekian kalinya bahwa sistem perbankan/ keuangan ribawi yang merupakan konsekuensi logis diterapkan sistem ekonomi Kapitalisme yang diadopsi Pemerintah. Seharusnya Skandal Century semakin meneguhkan keyakinan kita akan rusaknya sistem perbankan/keuangan ribawi khususnya dan sistem ekonomi Kapitalisme pada umumnya. Dan sudah semestinya, kita tidak rela mempertahankan keberadaan sistem Kapitalisme-neoliberal busuk ini. Masyarakat muslim Indonesia sebagai aktualisasi akidahnya harus menuntut penerapan sistem yang bersumber dari Allah Sang Penguasa Langit dan Bumi, Zat Yang Maha Adil. Itulah Sistem Ekonomi Islam.
JAWABAN ISLAM ATAS SKANDAL CENTURY
Skandal Bank Century tidak hanya mempermasalahkan kebijakan bailout yang tidak adil berdasarkan like and dislike, melainkan soal kebenaran dan keadilan hakiki, atau tak sekadar mempersoalkan dahsyatnya kejahatan kerah putih (white collar crime) di negeri ini. Namun, perlu kita cermati dan sadari pula apa yang sebenarnya menjadi penyebab paling mendasar terhadap munculnya moral hazard dan kebijakan aneh yang tidak adil tersebut.
Permasalahan sistemik penyelesaiannya haruslah secara sistemik pula. Solusinya harus dilakukan secara fundamental, yaitu penggantian sistem bukan perbaikan parsial terhadap sistem ini, bukan pula sekedar pergantian rezim dan tetap mempertahankan sistem lama yang usang. Sistem kapitalisme-neoliberal yang nyata kebobrokkannya harus diganti dengan sistem yang diyakini jauh lebih baik.
Menurut Dr. Abdullah Azzam (tokoh pergerakan Islam) bahwa pangkal hancurnya sistem kapitalisme-neolib ala Barat yaitu tidak melibatkan agama dan tidak memperdulikan Allah.
Allah SWT berfirman,
“Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.” (QS. Ar-ra’d: 33-34)
Islam sebagai agama sekaligus sebagai ideologi dan pandangan hidup yang sempurna memiliki alternatif solusi sistemik yang mampu menggantikan sistem kapitalisme-neoliberal yang telah bobrok. Sistem Islam khususnya pada sistem ekonomi telah mengharamkan instrumen ribawi. Ketika sistem ekonomi Islam diterapkan, maka tak akan dijumpai permasalahan pada dunia perbankan yang selama ini menjadi sumber masalah pada sistem ekonomi kapitalisme.
Allah secara final mengharamkan riba “Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu...”. QS. Al Baqarah 278 ini dengan tegas mengharamkan riba untuk selama-lamanya, kapan pun dan dimanapun.
Dengan mekanisme sistem Islam seperti di atas maka persoalan bailout kepada dunia perbankan dengan alasan krisis finansial maupun rekayasa perampokan uang rakyat tidak akan pernah terjadi. Hal ini dimungkinkan karena instrumen ribawi menjadi sumber masalah dihilangkan dan dilarang keras dalam sistem Islam.
KESIMPULAN
Kerusakan sistem kapitalisme-neoliberal sebagai suatu hal yang pasti karena bersumber dari azas sekuler yang meniadakaan peran Allah SWT sebagai Dzat Yang Mengatur Kehidupan. Berbagai dampak kerusakannya telah berulang kali terjadi. Akankah kita tetap diam dan membiarkan sistem rusak ini terus bercokol dan menjajah rakyat? Akankah kita tetap berpangku tangan terhadap fakta yang ada dan tidak peduli terhadap nasib umat? Akankah kita tetap merasa nyaman dan tenang terhadap kondisi pemerintah dan negeri ini yang mengabaikan kewajiban berhukum dengan hukum Allah? Saatnya kesadaran, dukungan dan usaha kita untuk mengganti sistem Kapitalisme-neolib ini dengan Sistem Islam yang memberikan kebaikan bukan hanya untuk umat Islam namun bagi seluruh alam.
Dan Allah pun telah mewajibkan kita untuk memutuskan perkara di dunia ini menurut apa yang di turunkan Allah, dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Almaidah:49)
Dari sini menjadi sangat beralasan bahwa penegakan Islam dan syariatnya akan sempurna dengan penyempurnaan penguasaan institusi politik berupa negara, yaitu Khilafah Islam. Tanpanya, Islam tak dapat diterapkan secara sempurna. Tanpanya pula, Islam tak mampu hadir sebagai solusi setiap permasalahan yang dijumpai di tengah-tengah masyarakat.
Karenanya, keberadaan Khilafah Islam adalah wajib hukumnya, sesuai kaidah syara': “Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib”. Apabila suatu kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya adalah wajib.
Sebagai penutup, kita harus tau dan sadar hanya kepada Allahlah kita berharap dan untuk kejayaan Islamlah harapan itu. Kini, saatnya umat harus segera sadar bahwa mereka adalah umat terbaik yang pernah ada. Umat harus segera sadar bahwa mereka adalah pemimpin dunia. Umat harus segera sadar bahwa mereka akan tetap sakit selama mereka masih menggunakan peradaban barat sebagai kiblat mereka. Umat harus segera sadar bahwa hanya dengan Islam-lah mereka akan bangkit kembali. Umat harus segera sadar bahwa merubah basis filosofi ketatanegaraan itu memang susah, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Saatnya bergerak dan berupaya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan untuk penerapan sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islam.
Wallahu’alam.
Kepada mereka yang dicintai hati, dikasihi jiwa, dan dirindukan oleh mata ini..
Kepada mereka yang hatinya telah terpaut,.. dan fikrahnya telah bersatu..
Kepada mereka yang telah berkumpul dalam ketaatan kepada Rabbnya.. dan saling mengikat jannji untuk membela agama Allah..
Kepada teman-teman disepanjang jalan perjuangan,.. kapanpun dan dimanapun saudara-saudara berada..
Kepada semua akhy dan ukhty diseluruh penjuru dunia.. Kuhadiahkan PESAN* ini untuk kalian…
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancdangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat , akan jarang terjadi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’I akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus , maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan dibarisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
• Jika komitmennya benar-benar tulus, maka hati seorang da’I akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudaranya seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apapun untuk permusuhan dan dendam.
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus, maka tidak akan terjadi kecerobohan dalam menunaikan kewajiban dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat “al-muttaqin”.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus, maka semua orang akan sangat menhargai waktu. Bagi setiap da’I, tidak ada waktu yang trebuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab , atau berjuang melaksanak dakwah denga menyeru kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran. Atau menadi seorang ustadz yang gigih mendidik dan mengajari anak isterinya di rumah. Da’i yang katif dimanapun untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
• Jika komitmen dakwah benar-benar tulus, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikitpun. Semboyannya aedalah “Apa yang ada padaku akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus, maka akan muncul fenomena pengorabanan yang nyata. Tidak ada kata “ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsuuntuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata”ya” untuk setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah
• Jika komitmen para da’i benar-benar tulus, maka seetiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada para pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakankebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah di dalam hatinya.
• Jika komitmen dakwah benar-benar tulus, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.
Buat teman-teman yang nggak sempat baca al waie bulan desember karena kesibukannya atau yang lainnya....
Baginda Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Syaddad bin Aus ra., “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…” (HR at-Tirmidzi; hadis hasan).
Dikatakan bahwa di antara pengertian “orang yang mengendalikan hawa nafsunya” (mân dâna nafsahû) dalam hadis di atas adalah orang yang selalu menghisab dirinya di dunia sebelum dirinya dihisab pada Hari Kiamat. Terkait dengan hadis ini, Umar bin al-Khaththab ra. pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab diri ketika di dunia.” (Lihat: Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jamî’ at-Tirmidzi).
*****
Muhâsabah (menghisab diri), sebagai salah satu pesan inti dari hadis di atas, sangatlah penting dilakukan oleh setiap Muslim. Dengan sering melakukan muhâsabah, ia akan mengetahui berbagai kelemahan, kekurangan, dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Dengan itu, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dengan itu pula, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia menjadi semakin baik. Imannya makin kuat; ketakwaannya makin kokoh; shalatnya makin khusyuk; amal shalihnya makin bertambah dan dosa-dosanya makin berkurang karena semakin jarangnya ia bermaksiat; semangat dakwahnya makin bergelora; pengorbanannya makin besar; akhlaknya makin terpuji—ia makin ikhlas, makin tawaduk, makin wara’, makin menjaga setiap amanah dan makin taqarrub kepada Allah SWT.
Sayangnya, karena berbagai kesibukan, entah karena sibuk mencari nafkah, atau berdakwah, seorang Muslim sering tak sempat lagi ber-muhâsabah; waktunya habis oleh ragam aktivitas yang ia lakukan. Ada juga yang jarang ber-muhâsabah bukan karena sibuk, tetapi karena memang ia lalai.
Tentu, jarangnya seorang Muslim melakukan muhâsabah merupakan musibah. Betapa tidak. Dengan jarangnya ber-muhâsabah (menghisab diri), seorang Muslim sering merasa tidak ada yang kurang pada dirinya; ia merasa dirinya baik-baik saja. Padahal boleh jadi, imannya makin rapuh, ketakwaannya makin terkikis, shalatnya tidak lagi khusyuk, amal shalihnya sudah jauh berkurang, dosa-dosanya makin bertambah, semangat dakwah hampir-hampir padam, pengorbanannya makin menipis, akhlaknya makin jauh dari islami—mulai sering muncul ketidakikhlasan, ketidaktawadukan, ketidak-wara’-an, ketidakamanahan dan makin jauh dari Allah SWT. Namun, semua itu sering tidak ia sadari karena kepekaan spiritual memang telah hilang dari dirinya akibat jarangnya ia melakukan muhâsabah.
Akibat lebih jauh, ia sering merasa tidak berdosa atau bersalah saat shalatnya lalai dan tidak khusyuk, saat amal shalihnya semakin berkurang, saat halaqah-nya jarang-jarang, saat melalaikan banyak amanah dakwah dan saat melakukan banyak dosa; seperti sering melihat hal-hal yang haram, mendengar hal-hal yang sia-sia, melakukan hal-hal yang syubhat, dll. Ia pun tidak lagi merasa menyesal saat sering meninggalkan shalat berjamaah, saat jarang melakukan shalat malam, saat shalat subuhnya suka terlambat, saat tidak mampu lagi berpuasa sunnah, saat jarang membaca al-Quran, saat tidak lagi bisa menangis ketika berdoa, dll. Tentu, semua itu, sekali lagi karena jarangnya ia melakukan muhâsabah.
Kita tampaknya perlu merenungkan kembali keteladanan Baginda Nabi Muhammad saw. dan para Sahabat beliau yang mulia. Baginda Nabi Muhammad saw., misalnya, pernah semalaman tidak dapat tidur karena khawatir memikirkan sebutir kurma—hanya sebutir kurma—yang terlanjur beliau makan di suatu tempat. Pasalnya, belakangan beliau berpikir bahwa kurma itu mungkin bagian dari kurma sedekah yang disediakan untuk fakir-miskin. Itulah yang menjadi beban pikiran beliau semalaman.
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah memuntahkan kembali makanan, yang baru belakangan beliau ketahui, bahwa makanan itu ternyata merupakan pemberian dari tukang ramal. Saat beliau ditanya, mengapa berlaku demikian, beliau menjawab, “Andai untuk memuntahkan makanan itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya, saya pasti akan melakukannya. Sebab, saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ’Badan yang tumbuh dengan makanan yang haram maka api neraka lebih baik baginya.’ Saya sangat khawatir dengan itu.” (Kanz al-’Umal).
Hal yang sama dilakukan oleh Umar bin al-Khaththab ra. Beliau pernah memuntahkan kembali air susu yang beliau minum, karena baru belakangan beliau tahu, bahwa ternyata air susu itu berasal dari unta sedekah. Seketika beliau memasukkan jarinya ke mulutnya dan memuntahkan kembali air susu itu (Imam Malik, Al-Muwaththa).
Diriwayatkan pula, pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra., seorang Anshar sedang shalat di tengah-tengah kebunnya. Lalu pandangannya tertuju pada buah-buahan ranum yang bergantungan di dahan-dahan pepohonan. Usai shalat, ia pun menyesal. Ia lalu segera mewakafkan kebunnya miliknya itu demi ’menebus’ kesalahannya (Imam Malik, Al-Muwaththa’).
Secuil kisah di atas—yang benar-benar nyata—mungkin bagi kita semacam kisah-kisah ’manusia langit’ yang sepertinya mustahil kita teladani. Asumsi semacam itu sesungguhnya hanyalah menunjukkan, bahwa kita benar-benar sudah sangat jauh dengan keteladanan Baginda Nabi saw., para Sahabat dan generasi salafush-shalih dulu. Mengapa? Karrena mungkin—salah satunya—kita jarang melakukan muhâsabah. Kalaupun kita melakukannya, mungkin itu kita lakukan setahun sekali, saat pergantian tahun atau saat ’berulang tahun’, atau mungkin saat terkena musibah. Padahal dosa dan kemaksiatan kita lakukan setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu. Tentu, semua dosa dan kemaksiatan itu sangat mudah kita lupakan, karena muhâsabah setahun sekali tak mungkin bisa mendeteksi seluruh dosa setiap hari, apalagi setiap waktu. Dosa setiap hari atau setiap waktu hanya akan mudah dideteksi jika kita melakukan muhâsabah setiap hari atau setiap waktu. Mudah-mudahan kita semua bisa melakukannya.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. []