LEMBAGA KAJIAN ISLAM (LKI) AL-IKHLAS POLIBAN

Lembaga Kajian Islam yang ada di Politeknik Negeri Banjarmasin

BANJARMASIN – Rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack H Obama ke Indonesia pada bulan Maret ini, mendapat penolakan dari Ulama Kalimantan Selatan. Sikap tersebut dinyatakan dalam bentuk penandatanganan pernyataan sikap ulama di atas kertas di sela kegiatan Majlis Buhuts Al-Islamiyah bertajuk Tolak Obama Pemimpin Negara Penjajah di Hotel Batung Batulis, Banjarmasin, Rabu (10/3). Forum ini diikuti para ulama dan ustadz dari berbagai daerah di Kalsel dan juga Kalimantan Tengah.

Ulama kharismatik asal Banjarmasin, KH Husin Naparin Lc MA yang berbicara dalam forum itu dengan tegas menyatakan menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama ke Indonesia pertengahan Maret mendatang.Beliau menyatakan "Obama adalah kepala negara kafir harbi fi'lan, yakni pemimpin negara yang memerangi umat Islam."

"Untuk itu, kami meminta para penguasa yang ada di negeri ini untuk tidak menerima, menyambut, atau memperlakukan Barack Obama layaknya tamu yang terhormat."ujarnya.






Perwakilan ulama ini juga mengajak seluruh komponen umat Islam di Indonesia, khususnya penguasa dan politisi partai, ormas, serta elemen-elemen ummat Islam yang lain untuk bersama-sama menolak kedatangan Obama dan sekularisme-demokrasi yang jelas-jelas telah menjadi mudharat bagi bangsa ini.

Para ulama juga harus berada di garda terdepan dalam perjuangan menegakan syariah dan khilafah serta memberikan ta’yid (dukungan) pada para pengemban dakwah yang berjuang untuk menegakan syariah dan khilafah.

Sementara itu, salah seorang perwakilan ulama, Pendiri Pondok Pesantren Annajah Putri Cindai Alus Martapura Kabupaten Banjar, H Zarkasi Hasby Lc dalam keterangannya mengatakan, aksi konkret para ulama se Kalsel tersebut buntut dari perilaku dan kekejaman yang dilakukan Negara AS terhadap kaum Muslimin di belahan dunia.

“Tidak ada yang berbeda antara Obama dengan Presiden AS sebelumnya. Mereka suka menumpahkan darah kaum Muslimin di Palestina, Irah dan belahan bumi lainnya,” ujar Zarkasi.

“Kami sebagai ulama juga akan berusaha menyadarkan ummat ini dan mengajak kepada kebenaran,” sambungnya.



Sementara itu, Ketua DPD II Kalimantan Selatan Hizbut Tahrir Indonesia yang menggagas kegiatan ini, Baihaqi Al Munawar saat dimintai komentarnya mengatakan, alasan lain pihaknya bersama ratusan ribu umat Islam di Kalsel menolak Obama lantaran selama ini Obama terus mendukung aksi kekejaman Zionis Israel terhadap ummat Islam di Palestina.



Menurutnya, haram hukumnya bagi ummat Islam menyambut kedatangan Obama ke Indonesia. “Yang harus dilakukan justru sebaliknya, menolak kedatangan Obama. Menyambut kedatangannya saja sudah diharomkan, apalagi menerimanya sebagai tamu kehormatan Negara,” tukasnya.

Aksi ini kata dia, akan terus berlangsung dengan menggalang tanda tangan di atas kain sepanjang satu kilometer yang akan dibentangkan sejak hari ini hingga sepekan kedepan. “Ummat Islam yang setuju dengan penolakan ini, boleh membubuhkan tanda-tangannya diatas kain putih disekitar komplek Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin,” ujar Baihaqi.

Disamping itu, HTI Kalsel juga akan menggelar aksi damai secara besar-besaran di kota Banjarmasin pada 14 Maret mendatang. (bem)


BERITA INI DIMUAT DI HARIAN RADAR BANJARMASIN

Thanks to Om Berry yang dah meliput acara ini..
Jazakallah khair


*catatan Ann Fauziana

Ketua Panitia Kerja Ujian Nasional DPR Rully Chairul Azwar menyatakan tidak setuju ujian nasional ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran kelulusan. "Akan tetapi, jika ujian nasional diposisikan sebagai alat ukur kualitas pendidikan serta untuk memetakan mutu pendidikan, setuju," (19/01)

---------------------------------------------------------------

Sebuah Pengantar

Conan Edogawa, detektif cilik nan imut yang hidup dalam dunia fiksi ini dikenal karena kejeniusannya dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Karakter yang sama juga terdapat pada Chinmi. Jago kungfu asal Kuil Dairin ini juga mampu menarik minat pembaca komik ‘Kungfu Boy' dengan kecerdasannya dalam mempelajari jurus kungfu yang diuraikan seilmiah mungkin. Dua tokoh fiksi ini memang hidup di dunia komik. Tapi kecerdasannya digilai para penggemarnya di dunia nyata. Jangan-jangan, kamu salah satu fans mereka. Ayo ngaku! (maksa nih ceritanya)

Yup, jadi orang cerdas emang impian. Di sekolah, cerdas identik dengan popularitas. Siswa cerdas pasti tidak akan luput dari perhatian guru dan pihak sekolah. Soalnya siswa model gini jadi aset berharga untuk mengharumkan nama baik sekolah dengan ukiran prestasinya. Meski tampangnya nggak ada bakat fotogenik, temen-temennya sering SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat . Selidik punya selidik, ternyata contekan PR menjadi penyebab utama kedekatan temen-temennya itu. Walah?

Tapi cerdas kayak gimana? Ini yang jadi soal. Sebab saat ini, kebanyakan orang menganggap kecerdasan selalu berkaitan dengan intelektual, langganan juara kelas, atau jago ngerjain soal-soal rumit pelajaran Fisika, Matematika, Kimia, atau Biologi. Seolah nggak ada parameter pemaaf, penyabar, empati, suka menolong, suka ngingetin, atau aktivis dakwah pada diri siswa cerdas. Kalo pun ada siswa cerdas yang punya sifat-sifat di atas plus bersuara vokal, hmm....boro-boro dilirik, kayaknya nggak diciduk ama pihak sekolah aja udah untung. Glodaks!

Temukan: Cerdas rasa baru

Untuk mengukur kecerdasan seseorang, biasanya pihak sekolah, militer, atau tempat kerja pake hasil karya Alfred Binet (1857-1911) yang kita kenal dengan istilah IQ alias Intelegencia Quotient (Kecerdasan Intelektual). Tingkat kecerdasan seseorang dinilai berdasarkan skor yang diperolehnya dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika untuk mengetes kemampuan intelektualnya.

Akan tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana ngukur kecerdasan hanya didasarkan pada nalar, matematika, dan logika yang diterjemahkan dalam nilai IQ. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang bersahabat erat dengan IQ. Apaan tuh?

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional”. Penjelasannya, kalo IQ mengangkat fungsi pikiran, maka EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya mensinergikan intelektualnya dengan perasaannya yang manusiawi. Biar nggak jadi sombong bin angkuh van jutek.

Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) menuturkan kalo IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri' ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence : 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Tolong catet ya.

Nah sobat, inilah rumusan cerdas rasa baru yang lagi “in”. Kita nggak perlu minder meski IQ kita jongkok atau malah tiarap. Kita tetep bisa tergolong orang cerdas dengan mengedepankan EQ dan menonjolkan SQ dalam keseharian kita. Caranya nggak cuma rajin ngikut kursus atau training yang berkaitan dengan itu, kuatkan juga keinginan kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Sebab di sanalah bermuara segala kecerdasan baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Beneran lho!

Menjadi cerdas dengan Islam

Menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Rugi amat ya?

Kondisi ini yang tidak dianjurkan oleh Islam terhadap umatnya. Justru Islam memerintahkan manusia untuk menghargai akalnya. Salah satunya dengan menggunakan akal dalam mengimani keberadaan al-Khalik, Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah, dan keotentikan al-Quran sebagai kalamullah (ucapan Allah). Agar akidah Islam tidak dibangun atas dasar taklid alias asal ngikut.

Saking pentingnya aktivitas berfikir, para shahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” ( Ad-Durrul Mantsur , Jilid II, Hlm. 409). Otomatis hal ini mendorong kaum Muslimin untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian sudah seharusnya kecerdasan intelektual dimiliki oleh setiap muslim.

Kecerdasan Emosional boleh dibilang kembaran dengan pembinaan nafsiyah (pola sikap) yang diajarkan Rasulullah saw. Untuk melembutkan perasaan, beliau mengajarkan kita sikap rendah hati, pemalu, atau qonaah . Agar kita nggak merasa angkuh ketika diberi kelebihan atau minder ketika kekurangan. Dalam bersosialisasi, beliau mencontohkan sikap empati, simpati, saling menolong, saling menasihati, saling mengingatkan, atau saling memaafkan dalam rangka menjalin persaudaraan. Sehingga kita nggak mudah melecehkan orang lain karena perbedaaan status ekonomi, pendidikan, atau sosial. Tingginya EQ bagi seorang muslim berarti memiliki akhlakul karimah dan menjadi pengemban dakwah.

Dan terakhir, kecerdasan spiritual (SQ) berarti kesadaran akan pengawasan Allah Swt. dan malaikat Raqib-Atid. Kesadaran ini tidak hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kekuatan yang memotivasinya untuk beramal. Melebihi motivasi yang dilahirkan dari materi, harta, popularitas, gengsi, atau kepintaran. Sebab SQ bagi seorang muslim terkait dengan hari penghisaban yang akan dijalaninya kelak di hari akhirat. Allah Swt. befirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al-Isrâ [17]: 36)

Sobat, semoga uraian di atas ngasih kamu pencerahan tentang kecerdasan dalam Islam yang khas dengan memasukkan unsur SQ dalam IQ dan EQ. Sebab cuma orang sekuler yang memisahkan kecerdasan intelektual atau kecerdasan emosional yang terpisah dari muatan spiritual. Sehingga kita bisa rumuskan kecerdasan bagi seorang muslim berarti perpaduan antara ISQ dan ESQ. Akur dong? Siip lah! Pokoknya lanjut terus bacanya!

Produk perpaduan ISQ dan ESQ

Sobat, perpaduan ISQ dan ESQ pada masa kejayaan Islam, turut mendorong ilmuwan muslim untuk menghasilkan karya ilmiah yang tercatat dalam tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang gape dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku master piece -nya berjudul “Muqaddimah” (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.

Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata ‘mencerna' penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan.

Sobat, Ibnu Khaldun dan Ibnu Haitham adalah dua dari sekian banyak ilmuwan Islam yang layak kita teladani. Kegigihan mereka menuntut ilmu dan ketekunan mereka berkarya, mencerminkan tingginya motivasi ruhiyah yang tergabung dalam intelektual dan emosional mereka. Ipteknya jago, akhlaknya yahud, kecerdasan spiritualnya juga oke punya.

Melahirkan generasi ‘Multi Cerdas'

Pada akhirnya, kita patut prihatin dengan kurikulum pendidikan negeri kita yang berbasis sekuler. Bisanya cuma menggenjot pelajarnya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional siswa lambat laun terkikis dengan ditanamkannya materi atau prestasi sebagai tujuan akhir dalam mencari ilmu. Adapun kecerdasan spiritual siswa, nasibnya cukup mengenaskan. Dua jam pelajaran agama dalam seminggu lebih terlihat sebagai formalitas bin pelengkap. Parahnya, muatan pelajaran agamanya juga cuma ‘ngobrolin' seputar ibadah atau bersuci yang nilainya tidak lebih dari hapalan sebelum ulangan dibanding sebuah pemahaman untuk dipraktikkan. Masa' mau kayak gini terus?

Bener sobat, kudu ada upaya teknis dan sistemik untuk membenahi sistem pendidikan negeri kita agar dapat melahirkan generasi “multi cerdas”. Generasi unggulan yang mampu berbicara tidak hanya dalam sains teknologi, tapi juga dalam sikap serta kesadarannya sebagai seorang muslim. Secara teknis, pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menggali potensi para pelajar dari sisi intelektual. Terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Seperti keberadaan laboratorium dengan alat dan bahan praktikum yang lengkap bin komplit.

Untuk mengatasi dekadensi moral yang masuk via media massa cetak dan elektronik, sudah sepantasnya pihak sekolah mengajarkan Islam secara utuh. Tidak membelah ilmu jadi umum dan agama. Agar terpompa kesadaran siswa akan kebesaran al-Khalik saat menekuni ilmu sains teknologi. Sekaligus, menanamkan sikap akhlakul karimah yang membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan.

Secara sistemik, tentu kita tidak akan berpaling dari peran negara yang besar untuk mewujudkannya. Saatnya negara menyadari kekeliruannya karena telah menjadikan sekularisme sebagai asas dalam membangun sistem pendidikan negeri kita. Lalu menggantinya dengan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan kepada kecerdasan intelektual saja. Akan tetapi mulai menghargai kecerdasan lainnya. Dan sebagai patokan dari semua itu: cuma ISLAM standarnya. Yang lain? Lewaaat…!
[hafidz]


---------------------------------------------------------------

Note: Tulisan berjudul "Cerdas, Tak Hanya di Atas Kertas" ini diterbitkan STUDIA Edisi 236/Tahun ke-6 pada 21 Maret 2005. Sekarang 31 Januari 2010, namun pesan yg ditulis dan disampaikan masih sangat relevan dengan realita sekarang. Bukan hanya karena kejeniusan penulis, tetapi karena esensi pesan yg disampaikan adalah Islam yang selalu kompatibel sebagai solusi segala permasalahan umat, penulis juga sangat menyadari bahwa sistem sekulerlah yang menjadi biang keladi seluruh permasalahan di negeri ini, termasuk di bidang pendidikan. Adakah kita peduli? Adakah kita mengerti? Wallahu a`lam bis-shawab.

Kampus adalah aset besar yang selalu dijadikan sebagai lahan perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Orang-orang yang berada di dalam kampus adalah orang-orang yang akan siap untuk melakukan suatu perubahan. Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, sering mengharapkan adanya suatu perubahan ditengah-tengah mereka dari kaum intelektual ini, karena mereka menganggap bahwa kampus adalah sebagai sarana dalam mengembangkan diri dan berbagai kreativitas untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih baik.
Kampus juga sering dianggap sebagai lahan bagi perkembangan orang-orang yang juga memiliki idealisme. Idealisme dalam artian kekuatan yang ada pada diri seseorang untuk membawa dirinya kepada suatu kemajuan, terlepas apakah idealisme itu shahih atau justru sebaliknya, menyesatkan. Dengan adanya idealisme ini, yang akan membawa kampus tersebut mengalami kemajuan. Dalam kehidupan kampus, didalamnya terdiri dari berbagai kalangan intelektual, mulai dari mahasiswa, dosen, para staf pegawai, birokrat dan juga pihak rektorat. Bahkan para pakar, seperti pakar pendidikan, pakar sains dan teknologi, dan pakar-pakar yang semua dengan mudah dapat dijumpai disini.

Sebagaimana juga diketahui, gerakan-gerakan mahasiswa juga sangat berkembang dikampus. Umumnya mereka yang menyandang status mahasiswa belum merasakan menjadi mahasiswa sesungguhnya jika ketika mereka mengecam pendidikan di kampus tidak ada kegiatan yamg mereka ikuti. Gerakan-gerakan yang muncul banyak sekali, mulai dari yang hanya sebatas bergerak di bidang kajian, penelitian ilmiah, bahkan mereka yang bergerak dalam suatu gerakan ekstrem. Berbagai macam lembaga ini yang menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengembangkan berbagai kreativitasnya, dan sebuah gerakan adalah sarana yang sangat strategis untuk mencapai tujuan yang hendak diraih.

Banyak orang mengatakan, bahwa mahasiswa adalah agent of change atau agen perubahan. Artinya, setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, baik perubahan itu parsial ataupun secara total pasti melibatkan para calon intelektual ini. Kita dapat melihat, bagaimana perjalanan sejarah bangsa ini. Mulai dari deklarasi sumpah pemuda, kasus rengas dengklok, kasus pergantian rezim orde lama ke orde baru, kasus penghapusan larangan jilbab, dipastikan mahasiswa adalah sebagai penggeraknya. Demikian juga jatuhnya rezim orde baru, yang diawali oleh serentetan aksi massa sejumlah elemen gerakan mahasiswa yang ada di Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Menjadi agent of change bagi sosok para intelektual ini memang sebuah keniscayaan.

Potensi Kampus Terhadap Perubahan

Masyarakat kampus, yang sering dianggap sebagai agent of change atau agen perubahan dengan keintelektualan dan idealismenya memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Idealisme yang tertanam pada kebanyakan mahasiswa dan juga suatu bangsa. Idealisme yang tertanam pada kebanyakan mahasiswa dan juga civitas akademika yang lainnya, membuat mereka senantiasa berupaya untuk mencapai apa yang telah dicita-citakan selama ini. Mereka para mahasiswanya dianggap punya sense of crisis sekaligus kemampuan mengidentifikasikan berbagai masalah yang sedang dihadapi masyarakat dan juga bagaimana untuk memberikan solusinya. Sehingga wajar kalau kaum intelektual ini menjadi pioner dalam setiap perubahan di masyarakat tersebut.

Kampus di kalangan masyarakat juga masih dianggap sebagai penopang kebijakan. Pendapat masyarakat kampus merupakan penentu berhasil tidaknya suatu kebijakan yang di keluarkan di terima oleh masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari potensi kampus sebagai badan riset, apa yang mereka hasilkan dipastikan akan lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat. Apalagi mereka yang peduli terhadap kondisi masyarakat, yang cuek dengan keadaan yang ada. Mereka peduli terhadap kedzoliman yang terjadi di masyarakat, mereka menginginkan perubahan di masyarakat, dari masyarakat yang tidak beradab menjadi masyarakat yang beradab. Tentu dengan penuh kesadaran bahwa perubahan yang akan dilakukan tidak akan terjadi begitu saja, tanpa ada yang menggerakan.

Namun pada faktanya yang terjadi, potensi kampus untuk menuju perubahan seringkali tidak jelas. Dalam artian perubahan yang dilakukan terkadang justru jauh dari apa yang di harapkan. Karena perubahan yang terjadi terkadang bukanlah perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi justru sebaliknya menjadi lebih buruk. Dengan potensi kampus sebagai agent of change, ini juga yang menjadi modal bagi asing untuk menguasai kampus dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Asing sangat menyadari bahwa kampus adalah lahan strategis untuk memuluskan cita-cita mereka. Kita bisa melihat bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk dapat menguasai kampus, terutama kaum intelektualnya dengan jalan menguasai kebijakan-kebijakan yang ada. Jiwa muda, idealisme yang dimiliki, rasa ingin tahu yang luar biasa ini yang dimanfaatkan oleh asing. Kampus menjadi sasaran utama memuluskan semua agenda-agenda mereka untuk semakin mengokohkan penjajahan mereka. Berbagai kebijakan yang ada sangat sarat sekali dengan kepentingan-kepentingan mereka.

Berdasarkan hal ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa sebenarnya posisi kampus sangat strategis di masyarakat, antara lain:
1. Tempat berkumpulnya orang-orang intelektual
2. Merupakan pusat ilmu
3. Menjadi referensi bagi pemerintah untuk mengeluarkan berbagai kebijakan yang ada.
4. Usia SDM yang ada relative muda.
5. Potensi untuk berfikir lebih daripada masyarakat secara umum
6. Sarat idealisme
7. Dipastikan berupaya untuk menggapai apa yang telah dicita-citakan.

Dengan melihat berbagai potensi yang ada, hal ini dapat dijadikan menjadi suatu kekuatan politik yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Mereka yang biasanya hanya sebatas mengandalkan idealisme dan semangat tanpa memperdulikan ideologi dan akidah yang menjadi azas pendorong perubahan itu, sering kali terjebak dan tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan akidah yang mereka anut. Walaupun, kampus dengan berbagai macam potensi yang dimiliki tadi, tetapi jika tidak boleh dengan baik maka yang terjadi justru kerusakan. Dengan keragaman SDM yang dimiliki, kampus sering dijadikan seperti lahan pertanian terbuka yang siap ditanami dengan benih apapun yang terkadang benih tersebut bertentangan dengan fitrahnya.

Optimalisai Potensi Kampus Sebagai Penopang Tegaknya Khilafah

Kampus, dengan berbagai macam potensi yang dimilikinya saat ini menjadi alat bagi penjajahan yang terjadi, semua diarahkan sesuai dengan kepentingan kafir penjajah. Idealisme yang mereka miliki, yang tidak memiliki landasan idealisme yang jelas dan shahih menjadikan para mahasiswa dan juga para aktivis kampus yang lain sangat dengan mudah diarahkan oleh kaum kafir penjajah. Standar mereka adalah asing, segala kebijakan yang dihasilkan sarat dengan kepentingan asing, hingga akhirnya secara sempurna kampus dalam genggaman mereka. Jika hal ini dibiarkan, maka yang akan terjadi adalah kerusakan masyarakat yang lebih besar. Kalaupun kampus dengan berbagai macam potensinya tadi, tidak akan mewujudkan perubahan yang sesungguhnya. Yang ada justru keberadaan masyarakat kampus justru membuat masyarakat semakin terpuruk.

Saat ini, ketika dunia dipimpin oleh sistem kapitalis, fakta menunjukkan bahwa kehancuranlah yang dihasilkan. Masyarakat juga secara keseluruhan telah melihat bahwa sistem kapitalis yang diterapkan saat ini telah gagal untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Dan merupakan peluang yang sangat besar sekali dalam upaya untuk menunjukkan bahwa hanya sistem Kekhilafahan Islam yang akan mampu menyelesaikan permasalahan umat manusia. Untuk itu, dengan adanya peluang ini sejatinya para pengemban dakwah yang menjadikan aktivitas dakwah sebagai nafas di dalam kehidupan untuk serius dalam memahamkan Islam secara sempurna kepada masyarakat. Sejatinya para pengemban dakwah tidak lengah sedikitpun dengan kesempatan dan peluang yang masih begitu besar diberikan.

Apalagi dengan memahami secara sempurna berbagai macam potensi yang dimiliki oleh kampus sebagai basic untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, menjadikan kampus sebagai mitra untuk menuju kemenangan dalam perjuangannya. Dengan melihat SDMnya yang sangat berkualitas, maka kampus sangat tepat dijadikan sebagai basic rekrutmen dan pembawa opini ketengah-tengah masyarakat. Ini yang harus segera dilakukan oleh para pengemban dakwah yang ada.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan, dalam pengoptimalan potensi politik kampus, sehingga kampus benar-benar menjadi penopang awal bagi penegakan Daulah Khilafah Islamiyah, diantaranya:
a. Pemahaman kampus sebagai aset besar penopang penegakkan Khilafah.
b. Pembongkaran fakta kampus saat ini yang secara sepenuhnya berada dalam genggaman asing
c. Mewujudkan kesadaran sebagai seorang muslim, memiliki tanggungjawab terhadap perkembangan agamanya.
d. Mewujudkan kesadaran politik berbasis ideologi Islam
e. Menggambarkan peran kaum intelektual muslim pada masa penegakkan Khilafah sebagai rujukan ilmu pengetahuan baik masalah Saintek, umum, agama diseluruh penjuru dunia.
f. SDM yang ada adalah aset Khilafah yang terbesar.

Peningkatan jumlah SDM yang akan dengan siap dan ikhlas berjuang menegakkan KHILAFAH sebagai Qadhiyah Masyiriyah (persoalan utama), dengan peningkatan kualitas dan kuantitas dalam rekrutmen, antara lain:
a. Dari sisi individu, serius dalam mengontak (iittishal hayyi) sebagaimana dalam metode dakwah yang telah dicontohkan oleh suri tauladan kita Rasulullah Saw.
b. Secara berjama'ah, dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti training, seminar, diskusi public, majelis ta'lim dan sebagainya.

Perkembangan opini yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, yang berkaitan dengan opini Syari'ah dan Khilafah akan dapat memberikan kesadaran secara umum kepada masyarakat. Oleh karena itu harus ada pengopinian yang kuat di kalangan kampus akan pentingnya penegakan Khilafah yang akan mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang terjadi dan saat ini sedang menimpa masyarakat secara keseluruhan di penjuru dunia. Bisa dilakukan dengan cara:
a. Melakukan kontak terhadap para tokoh yang ada, para tokoh didudukkan sesuai dengan bidang yang mereka kuasai. Dengan dibentuk sebuah tim yang akan mengatasi dan menyelesaikan permasalahan umat, sehingga benar-benar dirasakan oleh mereka, bahwa ilmu yang selama ini mereka miliki memiliki peran yang sangat besar untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga Negara dan agama.
b. Melakukan kontak terhadap para pemegang kebijakan, mulai dari level mahasiswa (BEM, HIMPRO,UKM,PEMA, dll), birokrat, rektorat dsb.
c. Melalui lembaga penelitian yang ada, yang hasilnya diberikan bagi kepentingan kaum muslim.
d. Kontak media kampus, untuk mewujudkan suasana jawil iman
e. Pembuatan opini dengan tema-tema yang memang sedang hangat untuk dibahas dan diselesaikan
Inilah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kekuatan, sehingga memberikan kontribusi besar, mewujudkan kekuatan politik yang mengikat para penguasa dalam upaya mempersiapkan penegakkan Khilafah. Langkah ini dapat dilakukan untuk penyatuan opini Syari'ah dan Khilafah di kampus, sehingga kampus sebagai aset Khilafah benar-benar dapat diwujudkan.

Pergerakan opini kampus secara serentak ketengah-tengah masyarakat Insya Allah akan memberikan hasil yang terbaik. Semoga langkah-langkah ini dapat memperkuat dan mempercepat penegakkan Khilafah. Dengan keyakinan kita akan datangnya janji Allah membuat kita tetap istiqomah untuk berjuang di jalan-Nya.Amin..

Wallahu 'alam bisshawab

Penulis: Eva Juliana Ritonga
Mahasiswi pasca sarjana UNIMED
Source : Dakwahkampus [dot] com

Kondisi iman kita bisa naik bisa turun, itu sudah sunnatullah. Pada saat iman kita sedang turun kita upayakan untuk tetap menjaga amal ibadah kita dan kedekatan kita kepada Allah serta tetap berada di lingkungan orang-orang yang sholih agar kita tidak semakin terpuruk dalam kefuturan, runtuhnya semangat berjuang dan akhirnya berguguran di jalan dakwah. Dari hari ke hari mungkin kita semakin banyak mendengar saudara kita yang berguguran seperti itu. Ada yang dulunya sangat aktif di medan dakwah tiba-tiba menyatakan undur diri dengan beberapa alasan dan alasan terkuatnya karena kecewa. Ada pula yang sudah lama tidak ngaji karena alasan sibuk atau ada juga yang karena merasa kecewa. Ada pula yang setelah lulus sikap dan pemikirannya berubah drastis. Jangankan dakwah, ngaji cuma sebulan sekali atau kalo lagi luang aja. Tapi sadarkah kita jika bisa jadi kita ikut andil dalam kefuturan saudara-saudara kita itu?

Bisa jadi mereka undur diri dari jalan ini karena kecewa terhadap kita yang tidak memenuhi haknya sebagai saudara, hanya sibuk dengan amanah kita masing2. Atau kecewa kepada kita yang `menjauhinya' ketika dia khilaf padahal dia tidak setegar Ka'ab bin Malik. Bukannya kita segera menolongnya ketika sedang lemah imannya justru samakin mendorong ke jurang kefuturan. Bisa jadi suatu saat mereka merindukan ingin kembali mengungsung panji-panji Islam ini tetapi apadaya dia merasa terasing karena sikap acuh tak acuh kita setelah dia pergi. Artikel berikut ini semoga bisa menyadarkan tentang sebab-sebab runtuhnya semangat berjuang dan mengantisipasinya sejak dini.

Kita harus menyadari bahwa apa yang kita lakukan dengan dakwah ini bukanlah sekedar mengisi kehidupan hari ini. Kita harus memandang bahwa setiap diri kita adalah tinta-tinta sejarah yang akan mempengaruhi kehidupan esok hari. Karenanya jika jiwa yang ada dalam raga yang lemah ini adalah juga jiwa yang lemah, maka buruklah sejarah umat esok hari. Akan tetapi jika raga ini dihuni jiwa pejuang, maka setiap masa yang datangng hanyalah saat menunggu tegaknya keadilan

Militansi seorang da'i adalah karakter pertumbuhannya yang tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri. Ia adalah karakter yang hadir dari kolaborasi proses berbagai komponen. Kondisi lingkungan, baik sarana dakwah maupun interaksi yang terjalin di dalamnya merupakan salah satu komponen penting bagi pertumbuhan karakter tersebut. Artinya kekuatan seseorang untuk bertahan dengan segudang amanah dan beban dakwahnya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh lingkungan dakwah. Maka evaluasi kontinyu suasana kondusif tumbuh suburnya karakter militant di lingkungan dakwah harus menjadi perhatian utama.

Komponen lingkungan tersebut seringkali kurang di perhatikan. Dalam perjalanan dakwah terkadang kita tidak adil dalam memberikan penilaian terhadap kondisi keimanan ikhwah di sekitar kita. Kita begitu mudah `cuci tangan' dengan menyalahkan kualitas pembinaan sebagai gugurnya sang pejuang. Padahal bisa jadi diri kita sebagai bagian dari komponen lingkungan termasuk penyebab utama permasalahan tersebut.

Di lapangan dakwah ada beberapa fakta yang menegaskan tentang peran lingkungan dalam melemahkan karakter militant sang pejuang. Dalam prosesnya tanpa disadari, kita menyumbang andil yang tidak sedikit menyuburkan `kesalahan'. Beberapa diantaranya yang perlu kita waspadai adalah:

Taushiah yang Menghukum Bukan Menyadarkan

"Sudah sepekan ini Rifki terjebak dalam kelemahan. Hal tersebut mempengaruhi pola interaksinya. Ia jadi lebih mencair. Puncaknya adalah ketika sabtu sore menjelang magrib, ia berjalan berduaan dengan Marni. Tanpa disadari olehnya kejadian tersebut disaksikan beberapa ikhwan. Pada pekan selanjutnya kejadian serupa sempat terjadi beberapa kali. Rifkipun menarik diri dari aktifitas Mushollah. Sejak saat itu, nama Rifki menghilang dari peredaran"

Tanpa kita sadari pula pendekatan terhadap masalah ternyata menjadi penyebab utama `gugurnya' karakter militant seorang aktifis dakwah. Tiba-tiba saja semua ikhwah merasa wajib `menjauhi' Riffki. Padahal tidak seorang pun berusaha secara jelas mengklarifikasi latar permasalahan yang dialaminya. Sangsi sosial yang kita berikan terlalu berat. Lingkungan dakwah yang seharusnya saling menguatkan dan membahagiakan, menjadi lingkungan yang tidak nyaman buat Rifki. Sementara kebijakan yang dilakukan secara jama'I tidak begitu jelas juga. Setelah sanksi social berlaku, kita cenderung berharap agar waktu menyelesaikan semuanya. Salahkah Rifki jika ia justru semakin menjadi dan jauh. Walaupun sesungguhnya ia pun merasa berat dengan keterlanjuran tersebut.

Pengkondisian yang Salah

"Rifki sama sekali tidak paham, mengapa ia tiba-tiba ia ditarik dari amanah yang diembannya. Dia measa seperti diisolasi dari amanah dakwah. Dia menduga kuat penyebabnya adalah kejadian pecan lalu. Saat ia mencoba meminta penjelasan ia hanya dijawab, "Kuatkan dulu diri antum!"

Perlakuan yang diterima Rifki menyebabkannya justru menjadi semakin jauh dari proses perbaikan Harapannya untuk segera keluar dari permasalahan menjadi sirna. Ia dihadapkan pada dua lingkungan. Lingkungan lamanya dengan para aktivis dakwah yang kini dirasakan sangat `menyesakkan' serta tidak memberikan peluang untuknya. Dan lingkungan baru yang dengan lapang siap menerimanya apa adanya.

Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan utama Rifki adalah penguatan. Salah satu cara menguatkannya justru memeluknya ke dalam lingkungan aktifis internal. Mengembalikan semua memori waktu mengerjakan segudang amanah dakwah. Akan tetapi kebijakan yang harus dijalani membuatnya merasa hampa. Ia terjebak dalam kekosongan aktifitas. Banyaknya waktu kosong bukan menjadi solusi, sebaliknya menjadi boomerang bagi dirinya. Akhirnya iapun mencari aktifitas dan lingkungan lain yang lebih bisa menerimanya, Hilanglah nama rifki dari lingkungan lama yang katanya membahagiakan.

Pembinaan yang Parsial

Lamanya usia pembinaan, bukan jaminan terhadap matangnya kualitas pembinaan. Banyak factor lain yang sangat berpengaruh secara kompleks. Itulah yang terjadi pada diri Rizal. Ketika SMU dialah orang pertama yang semangat mengikuti pembinaan Rohis. Hal tersebut jugalah yang menempatkannya menjadi orang nomer satu di Rohis. Akan tetapi setelah lulus SMU, Rizal tidak terlihat lagi di dalam barisan para aktifis dakwah. Gayanya juga sudah berubah. Setelah ditelusuri ternyata amanah yang banyak membuatnya merasa tidak mengapa untuk meninggalkan pertemuan pembinaannya. Akhirnya tanpa disadari ia terjebak dalam keasyikan kuliah dan pekerjaan lainnya, sementara secara maknawi ia merosot dalam kelemahan. Akhirnya keletihan menghinggapi dan ia pun sulit untuk bangkit.

Perhatian terhadap masalah pembinaan adalah perhatian yang utama. Dalam keadaan apapun sedapat mungkin pelaksanaannya tidak terganggu. Selain itu peningkatan mutu pertemuaan dengan variasi pelaksanaan yang kreaktif, serta program,-program yang tepat, menjadi semacam kebutuhan mendesak. Resiko pemahaman parsial sangat mungkin terjadi jika pertemuan tersebut terjebak ke dalam rutinitas semata. Hasilnya hanya akan melahirkan kader yang lemah dan tidak tahan banting.

Kecewa terhadap Keadaan Dakwah

"Entah kenapa Arman merasa hambar dengan amanah dakwahnya. Rencana-rencana yang dibuat seolah hanya hiasan kertas kerja. Beberapa kali pertemuan yang dirancagnya gagal. Kinerja tim melemah. Sementara tim lainnya seolah bergerak sendiri-sendiri. Sudah dicoba untuk mendiskusikan permasalahan tersebut. Namun tidak pernah menghasilkan kebijakan yang jelas. Perlahan-lahan ia pun mulai masa bodoh dengan amanahnya. Belakangan ia malah terlibat aktif dalam aktivitas lain di luar amanah dakwahnya.

Tersumbatnya saluran komunikasi menyembabkan banyak ketidakjelasan yang disimpan di dalam hati aktivis. Perhatian terhadap permasalahan tersebut tidak bisa disepelekan. Meemperbanyak ruang keterbukaan akan melahirkan rasa kepemilikan yang kuat terhadap amanah dakwah. Karenanya itu menjadi suatu kebutuhan primer. Agenda dakwah. Jika dibiarkan perasaan kecewa tersebut akan melunturkan semangat kerja dan menepiskan karakter militant aktivis.

Silaturahim yang lemah

"Arman dulunya termasuk pengurus Rohis. Namun kekecewaan membuatnya memilih aktivitas lain. Pilihan tersebut menyebabkannya menjadi jauh dari ikhwah lainnya. Sampai akhirnya ketika berpapasan pun hanya teguran formal yang dirasakannya. Setelah sekian lama, Arman merasa rindu untuk kembali bergabung dengan anak-anak Rohis. Namun ia merasa asing dan sendirian. Hal tersebut dirasakannya ketika beberapa ikhwah yang dulu sering berkunjung ke rumahnya, kini entah kemana. `Apakah saya tidak berhak memuliakan agama Allah kembali, sedang nabi Adam pun pernah berbuat kesalahan, tapi Allah memaafkannya'. Akhirnya Arman benar-benar tersisihkan."

Seandainya kita mau sedikit memaknai pemahaman ukhuwah kita, tentulah kasus tersebut tidak pernah terjadi. Hanya dengan memberikan perhatian sederhana kita mampu mengikat hati-hati kita menjadi kesatuan yang utuh. Bahkan terhaadap saudara-saudara kita yang mengalami keterlanjuran, bagi mereka bukan berarti pintu dakwah tertutup. Mereka tetap berhak untuk kembali mengusung panji-panji kemuliaan. Namun terkadang kita justru menjadi penyebab lunturnya karakter militansi mereka dan membuatnya semakin menjauh.

Perubahan Lingkungan Aktifitas

"Di kampus Andri adalah salah seorang aktifis dakwah yang cukup dikenal. Akan tetapi setelah lulus, gaya dan kelakuannya berubah drastis. Menurutnya ini tuntutan lingkungan baru, apa boleh buat. Rupanya perubahan lingkungan tidak diantisipasi olehnya. Di kampus ia menghabiskan waktunya hanya di tiga tempat, ruang kuliah, lab dan masjid. Hampir 24 jam perhatiannya tersita untuk agenda dakwah. Namun kini semuanya berubah. Jangankan dakwah, sholat jama'ah pun semakin jarang dilakukannya. Meskipun ada perasaan rindu, ia mulai merasa asing dengan kata dakwah."

Perubahan lingkungan aktivitas pasti akan dialami oleh kita semua. Persiapan untuk menghadapi kondisi tersebut perlu dilakukan sejak dini. Kita harus memahami bahwa menguat atau melemahnya karakter militant sangat ditentukan oleh lingkungan aktivitas. Oleh karenanya jika kita mengalami perubahan lingkungan tersebut penting bagi kita untuk menjaga pengkondisian diri. Harus disadari bahwa ada lingkungan tertentu yang tidak boleh berubah dalam fase kehidupan kita. Mislanya tetap menjaga kedekatan diri dengan budaya dakwah dan lingkungan tausiyah. Ia akan hadir sebagai penguat karakter militan dimanapun kita berada.

Sebagai sang pejuang, kita dituntut mengupayakan semua faktor yang memungkinkan penguatan diri kita. Saat ini masyarakat tengah berada di persimpangan sejarah. Mereka membutuhkan contoh-contoh hidup seorang pejuang. Jika permasalahan yang menyita energi dan perhatian kita adalah karena perbuatan kita sendiri, sampai kapankah kita akan menghadirkan senyum buat mereka. Lihatlah bagaimana ternyata sebagian dari mereka masih sangat sulit membedakan kepentingan Islam dengan kepentingan lainnya. Sebagian memberikan loyalitas, sebagaimana layaknya para sahabat memandang Rasulullah. Sementara itu Fajar Islam sepertinya masih sangat lama untuk terbit di sini. Semuanya membutuhkan kekuatan, membutuhkan pengorbanan, membutuhkan keteguhan sikap, membutuhkan militansi yang sempurna akankah kita termasuk orang yang berada didalamnya?

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendiriannya, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS.Fushshilat:30)

Wallahu a'lam bish showwab

http://groups.yahoo.com/group/RohisAlumni97/message/162

Ditulis oleh Shiddiq di/pada Januari 26, 2009

Untuk saudaraku di Indonesia

Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia,,??? namun , jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa…? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku??? disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah Saya sempat berkenalan dengan salah seorang “aktivis da’wah” dari Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku,”setiap tahun musim haji, ada sekitar 205 ribu jama’ah haji ber asal dari Indonesia datang ke Baitullah ini…!!!”. Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, “sauadaraku,,,,jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja”. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah… Wah….wah…pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia

Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah….pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini…yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini….saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum. Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,,,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian..??? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut….!!!, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan ,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah…saudaraku!!!, Mereka mati syahid,,,saudaraku… mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!! Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, Saudaraku,,,,bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!!

Wahai saudaraku di Indonesia

Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar,,,, Apa karena kalian sulit mencari rezki disana..? apa negeri kalian sedang di blokade juga..? Perlu kalian ketahui,,,saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan,,,walau sudah lama kami di blokade. Kalian terlalu manja…!? Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda Baru saja melangsungkan pernikahan,,,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah,,,,diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut .

Wahai Saudaraku di Indonesia

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan “pengajian” atau halaqoh pembinaan Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut,,,, Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan Buku-buku pasti kalian telah lahap,,,kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku… Satu jam,,,yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut Walau Cuma satu jam saudaraku,,,, Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana. Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami,,, Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai “nyanyian perang” kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang ,,, bagaimana Dengan kalian…? Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur’an, umurnya baru 10 tahun , Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tyanahnya sudah Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma,,,, yah ditempat itulah mereka belajar Saudaraku…., bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel… Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal,,,karena memang didepan mereka “tafsirnya” langsung Mereka rasakan.

Wahai Saudaraku di Indonesia

Oh…iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah,,,,,kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini , termasuk kalian di Indonesia Namun,,,bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Akhhuka…..Abdullah ( Gaza City ..1430 H )

Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Dalam tatanan masyarakat kampus, dakwah merupakan hal yang sangat penting mengingat kampus adalah Institusi penyiapan kader yang akan memberikan tuntutan bagi insan kampus dalam mencapai cita-cita manusia seutuhnya. Beranjak dari itu kesadaran akan kewajiban dakwah bagi setiap individu muslim serta urgensi dakwah dalam kehidupan masyarakat kampus, maka hanya dengan mengaharap ridho Allah SWT, pada tanggal 10 Juni 2003 dibentuklah Lembaga Kajian Islam Al-Ikhlash Politeknik Negeri Banjarmasin (LKI Al-Ikhlash Poliban) oleh sekumpulan mahasiswa dan dosen muslim Poliban dan dibantu oleh LDK AMBH UNLAM. Sebagai lembaga pengkajian dan pembinaan kepribadian muslim poliban yang mempunyai keyakinan dan tujuan yang sama dan berhimpun secara harmonis dan fungsional dalam gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar dikampus Poliban. Sumber nilai tertinggi LKI Al-Ikhlas Poliban adalah Al-Islam, sedangkan gerak dan aktifitasnya semata-mata adalah beribadah menghadap ridho Allah SWT.

Pengikut

Arsip Blog

Labels